HEADLINE

DETEKTIF PINKAN DAN NIKI_Cernak Yulianto Adi Nugroho (Surabaya)



DETEKTIF  PINKAN DAN NIKI


Pinkan dan Niki selalu pulang sekolah bersama dengan berjalan kaki. Siang ini sebelum pulang, mereka sepakat untuk ampir ke perpustakaan sekolah. Bukan untuk membaca atau mengembalikan buku pinjaman. Tapi ada sebuah misi besar yang harus mereka selidiki dan segera dituntaskan.
Tepat tiga hari yang lalu, di perpustakaan sekolah telah terjadi pencurian buku. Pinkan dan Niki bukan khawatir soal koleksi yang berkurang atau muka bapak penjaga perpustakaan yang semakin hari semakin galak, lebih dari itu ada alasan kuat yang mengharuskan mereka bertindak dengan cepat. Adalah buku seri “Kisah Naga dan Pangeran Anwar”. Buku paling favorit di sekolah itu, bahkan saking favoritnya untuk membacanya pun harus bergiliran atau paling tidak salah satu dari mereka harus rela menjadi juru cerita dan lainnya menjadi pendengar. Buku yang selama ini menjadi primadona di sekolah dan kini keberadaannya sedang tidak diketahui. Sebab itulah Pinkan dan Niki merasa berkewajiban dan bertanggungjawab sebagai mana mereka menamai diri sebagai duo detektif. 

“kita harus menemukan kembali buku itu” ujar Pinkan yang sedari tadi diam saja setelah hampir separuh perjalanan pulang.

“iya setuju, masalahnya siapa yang mengambil?” jawab Nikan

“tenang saja nanti kita pasti tahu, kita kan detektif.”

“iya betul. Besok pas istirahat kita kembali ke perpustakaan. Kita mulai penyelidikan.” 

“Setuju.” Sahut Pinkan

Di sekolah Pinkan dan Niki adalah detektif yang tersohor. Mereka hampir selalu bisa membantu menyelesaikan masalah teman-temanya, mulai dari kehilangan permen, gantungan tas model mickye mouse, sampai uang saku. Pinkan dan Niki selalu punya cara untuk menuntaskan setiap kasus yang mereka hadapi. Termasuk pencurian buku legendaris “Kisah Naga dan Pangeran Anwar” ini. Semoga saja.

Bel istrirahat baru saja berbunyi, Pinkan dan Niki segera menuju perpustakaan untuk mengumpulkan bukti-bukti penyelidikan sekaligus mencari informasi kepada penjaga perpustakaan. Harus diakui ini bukan kasus yang mudah, Pinkan dan Niki mengaku ini adalah kasus terberat dalam sejarah perdetektifan mereka.

Tanda-tanda mulai bermunculan, Pinkan dan Niki mendapakan informasi dari penjaga perpustakaan bahwa buku tersebut terakhir terlihat siang hari, tepatnya saat istirahat kedua. Saat itu ada  rombongan siswa dari sekolah lain yang kebetulan sedang melaksanakan lomba di sekolah Pinkan dan Niki. Selama waktu istirahat itu mereka sedang di perpustakaan dan ada beberapa siswa yang bergerombol di rak tempat buku “Kisah Naga dan Pangeran Anwar”. 

“Setelah itu tidak terlihat lagi keberadaan buku.” Ujar Pak Kasim, penjaga Perpustakaan sekolah.

Kini kecurigaan diarahkan kepada gerombolan siswa sekolah itu.

“ini pasti mereka yang mencuri.” Bisik Niki kepada Pinkan.

Pankan mengangguk-angguk ragu, seakan dia sedang memikirkan sesuatu.

“sebentar detektif Niki, tidak mungkin kalau mereka mencuri buku itu.”

“kenapa tidak mungkin detektif Pinkan.” Sahut Niki

“perpustakaan mereka sendiri pasti punya, untuk apa mereka mencurinya?”

“loh, kan bisa dibawa untuk pulang detektif Pinkan.” Tungkas Niki kembali

“tidak ada yang bisa membawanya pelung, sebab mereka akan berebutan.”

Ketika Pinkan dan Niki sedang sengit berdiskusi di bangku pojok perpustakaan itu. Tiba-tiba Pak Kasim menghampiri mereka dan mengatakan kalau di bangku inilah gerombolan siswa itu membaca buku “Kisah Naga dan Pangeran Anwar”.

“lalu pak” sahut Pinkan dengan cepat

“iya setelah itu mereka buru-buru pergi karena sudah dipanggil oleh guru mereka, dan setelah itu bapak tidak tahu lagi buku itu di mana.”

Pinkan segera mengambil kesimpulan kalau mereka tidak sempat mengembalikan buku itu ke rak yang semula. Kemungkinan terbesar buku itu ditaruh di rak terdekat dari bangku ini. Pinkan segera beranjak.

“sebentar detektif Pinkan” sahut Niki.

Niki menarik laci di bangku yang sedang mereka duduki dan Niki menemukan buku “Kisah Naga dan Pangeran Anwar” di dalamnya. Pinkan dan Niki pun tersenyum gembira, begitu pula dengan Pak Kasim.

Misi telah selesai.



Tentang Penulis

Yulianto Adi Nugroho, lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1997. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Bergiat aktif di komunitas sastra KRS (Komunitas Rabo Sore) Surabaya. Sering melamun tapi belum pernah kesurupan. Karya puisi dimuat di beberapa koran dan antologi bersama.


baca juga (tinggal klik):


Tidak ada komentar