HEADLINE

TEMON ANAK JUJUR_Cerita Dari Kak Irul S Budianto

Ayo, kirim Cerita-ceritamu, ya. Ke alamat e-mail: riduanhamsyah2017@gmail.com
(Tapi Kak Subagsa mohon maaf, ya, laman ini belum dapat memberikan honorium)



TEMON ANAK JUJUR


Temon baru kelas IV SD di daerah pinggiran Boyolali. Selain rajin dan pintar, Temon juga anak yang jujur. 

Setiap pulang sekolah Temon selalu membantu orang tuanya. Salah satunya yang rutin dilakukan adalah menggembala kerbau. Sembari menggembala itu pula Temon memanfaatkan waktu untuk belajar.

Saat Temon duduk di bawah rindangnya pohon Trembesi, tiba-tiba matanya menatap sebuah dompet yang tergeletak di pinggir jalan tak jauh dari tempatnya duduk. Dompet itu pun diambil dan dibuka. Alangkah kagetnya karena dompet itu berisi uang yang cukup banyak. 

“Tarmin….,” teriak Temon memanggil temannya yang juga sedang menggembala kerbau..

“Ada apa, Mon?” tanya Tarmin setelah berada di dekat Temon.

 “Aku menemukan dompet,” Temon lalu memperlihatkan dompet di tangannya. 

“Dompet itu apa sudah kamu buka?”

“Sudah. Dompet ini isinya uang yang cukup banyak.” 

“Dompet itu pasti punya orang kaya, bagaimana kalau kita pakai untuk jajan?” 

“Jangan! Ini bukan milik kita.” 

“Dompet itu kautemukan, berarti itu hakmu. Kalau ada yang mencari bilang saja tidak tahu.” 

“Tidak. Itu namanya tidak jujur.” 

Tarmin mengernyitkan dahinya. 

“Dompet ini akan kusimpan, siapa tahu orang yang kehilangan dompet ini nanti mencari ke sini,” Temon memasukkan dompet ke saku celananya. Tarmin pun lalu meninggalkan Temon. 

Tak lama kemudian ada sepeda motor berhenti di dekat Temon. Alangkah kagetnya Temon begitu melihat orang yang naik sepeda motor itu ternyata Pak Yono, Kepala Sekolahnya. 

“Temon, apa kamu atau temanmu ada yang menemukan dompet?” kata Pak Yono.

“Kebetulan saya tadi menemukan dompet di pinggir jalan ini. Apa dompet ini milik Pak Yono?” jawab Temon sambil memberikan dompet. 

Pak Yono memperhatikan sesaat dompet itu, lalu tersenyum, ”Dompet ini benar punyaku.”

“Dompet itu masih utuh, Pak,” kata Temon.

 Pak Yono kembali tersenyum. “Aku percaya kepadamu, Mon. Kamu memang anak yang jujur.”

Temon hanya diam. 

Pak Suyono lalu mengambil dua lembar uang sepuluhan ribu dari dompet. “Temon, terimalah ini sekedar buat beli es.” 

Temon menggelengkan kepalanya. ”Maaf Pak, saya sudah merasa senang bisa menemukan dompet Pak Yono.” 

“Sudahlah, ambil saja uang ini,” rayu Pak Yono.

Temon tetap menggelengkan kepalanya. 

Pak Yono hanya tersenyum. ”Ya sudah. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadamu. Mon.”

Setelah itu Pak Yono pamitan. Temon lalu duduk di tempatnya semula sambil mengawasi kerbaunya. 

Tidak terasa waktu sudah menjelang Maghrib. Temon pun pulang menggiring kerbaunya. 

“Temon, tadi Pak Yono ke sini,” kata Emak setelah Temon keluar dari kandang kerbau.  

Temon agak kaget, “Kenapa Pak Yono ke sini?”

“Tadi Pak Yono hanya menitipkan bungkusan untukmu.” 

Emak lalu memberikan bungkusan itu kepada Temon. Setelah dibuka ternyata berisi dua buah buku bacaan kesukaannya.

“Itu namanya rezeki anak jujur,” kata Emak lalu meninggalkan Temon yang masih terpaku memegang buku itu.


Tentang Penulis

Kak Irul S Budianto, menulis cerpen, puisi dan esai sastra-budaya. Kini tinggal di Boyolali, Jawa Tengah. 



Tidak ada komentar