HEADLINE

Cerpen Mala Nur Baety _CINTA TIDAK SELALU INDAH



Bukan tentang indahnya cinta. Namun, tentang perjuangan hidup manusia dalam berjalan atas nama cinta. Hingga menemukan tempat dimana indah dan suramnya cinta. Kata seseorang dunia terasa hanya milik kita berdua kala kita jatuh cinta. Namun, kala cinta itu menaburkan luka. Dunia terasa gersang dan kejam. Begitulah ... manusia kebanyakan menafsirkan cinta, walau tidak semua. Namun sejatinya cinta itu yang perlu di raih, berjodoh di dunia dan akhirat. 

**** 

Jakarta, Indonesia 

Hari ini Naina memilih duduk di taman belakang mansion orangtua nya. Ia sedang tidak ingin apapun, rasanya hanya butuh kesendirian dan ketenangan untuk menenggelamkan rasa sakit ini. 

Naura yang sedang berjalan, ingin menuju kolam renang. Ia berhenti sejenak dan memperhatikan adiknya yang diam dengan tatapan kosong. 

Naura menghela napas kasar. Ia sudah geram akan kelakuan adiknya. Yang hanya karena pria dia terlihat seperti orang bodoh. 
Ia berjalan dan duduk di samping adik satu-satunya. 

"Why?" tanya Naura pelan. Namun masih bisa didengar Naina. 

Hanya gelengan kepala yang mampu Naina lakukan. Sementara Naura menghembuskan napas untuk kesekian. 

"Nai, look at me!" 

Naina mau tidak mau menoleh kesamping kakaknya. Walau ia enggan sebab, ia sedang berusaha menahan air mata. 

"Apa yang terjadi? Kakak tahu, kamu seperti apa. Kamu jarang terbuka, namun izinkan kali ini kakak menjadi berguna sebagai kakak. Katakan apa yang pria itu lakukan hingga kamu sebegitu hancur," ucap Naura dengan lembut. 

Naina tidak mampu menahan air mata yang sedari tadi ia tahan. Dan- lolos sudah tetesan itu kini kian deras. Mengingat kenyataan hidupnya. 

"Aku hamil, dan ia meninggalkanku," ucapnya lirih dengan tubuh gemetar. 

"APA!" 

"Ba---bagaimana ... mungkin?" tanya Naura tak percaya dengan apa yang ia dengar. 

Naina akhirnya menceritakan saat Revan mencampakkannya. 

**** 

INTERVAL 

****

Las Vegas, Nevada, USA 

Naina memilih kuliah di Las Vegas. Pertama karena kedua orangtua nya yang sedang menjalankan bisnis di kota yang terkenal dengan berbagai tempat hiburan. Dan kedua karena ia ingin melupakan seseorang yang pernah sempat hadir dalam hidupnya. 

Karena bosan di mansion. Naina memilih ke nightclub terdekat. Setelah mengganti baju dengan gaun berlengan pendek dan hanya sebatas lutut. Ia memakai heels putih untuk mempadukan gaun peach yang dikenakan. Naina memilih membawa mobil sendiri. Dan hanya memakan waktu 30 menit kini ia sampai di nightclub yang sering di kunjungi para Mafia, Billionaire, Trillionaire, Millionaire dan para kebanyakan pemilik perusahaan. Nightclub ini termasuk termahal di Las Vegas. Bukan sembarang orang bisa masuk, hanya kalangan tertentu. 

Setelah memarkirkan mobilnya. Naina berjalan masuk dan berpapasan dengan pemilik nightclub yang mana adalah teman kakaknya. 

"Nai...," sapanya dengan ramah. 

"Hai kak, ada tempat kosong kan? Penat nih di mansion," cengir Naina. Tanpa perlu memberi alasan pasti pemilik nightclub yang bernama Mikail Gionard pasti tahu jika ia berkunjung. Yaitu ; bosan di mansion. 

"Tenang saja adik kecil ku, bila perlu pakai ruanganku untuk mencuci penatmu." Mikail tertawa melihat wajah masam gadis kecil di hadapannya. Ia tahu, pasti cemberut lantaran dibilang kecil. 

"Heii... aku sudah 21 tahun, masa masih saja di bilang kecil. Dan-- sejak kapan aku jadi adikmu? Oh Tuhan ... jangan, jangan kak Mikail jadian dengan kak Naura. Iya kan?" tanya Naina dengan nada curiga dan menatap lelaki tampan itu dengan tajam. 

"Aishh ... sorry honey, kakak masih normal untuk menyukai kakakmu yang super galak," bantah Mikail walau hati kecilnya ia memang berharap Naura mau menerima perasaannya. 

"Alasan, awas nanti naksir beneran loh. Baru tahu rasa, dan tunggu... apa tadi kata kakak, bahwa kak Naura galak? Aku aduin ya," ancam Naina dengan nada mengejek. Tapi ia bahagia setidaknya rasa bosannya kini hilang. Naina sebenarnya tahu bahwa dia naksir kak Naura. Hanya saja, pria terkadang ego nya besar. 

"Aduin saja. I don't care," jawab Mikail pura-pura gak peduli. Padahal dalam hati ia berteriak 'bahwa memang aku menyukai kakakmu' namun, ia tidak bisa berkata jujur pada Naina. Itu akan membuat dia gencar menertawainya. 

"Baiklah... mungkin, saat ini tidak perduli. Namun--- saat waktu nya tiba kalian jadian. Aku orang pertama akan tertawa, karena ucapan kakak di tarik sendiri, bye." Naina tersenyum menang melihat wajah masam lelaki itu, dan memilih berjalan masuk ke nightclub. 

Saat masih menatap layar ponsel, tidak sengaja Naina menyenggol gelas wine yang di meja dan terdapat lelaki. 

Naina langsung terlonjak kaget saat gelas itu pecah, menimbulkan bunyi keras yang mampu membuat semua mata memandangnya. 

Dengan sedikit membungkuk ia berusaha membereskan pecahan kaca dan minta maaf pada pemilik minuman, ia juga menawarkan membelikan yang baru namun di luar nalar. Si pemilik murka. 

"Maafkan saya, akan saya ganti minuman Anda," lirih Naina. Lantas ia memanggil pelayan untuk memesan minuman yang baru. 

"Pelayan!! Tolong siapkan minuman yang baru untuk Tuan ini," ucap Naina, namun di bantah si pemilik minuman. 

"Tidak usah! Kau--- punya mata tidak? Memang tidak lihat ada meja. Dan... apa kau bilang? Ganti minumanku. Memangnya kau kira aku tidak mampu membeli yang baru, bahkan aku bisa beli nightclub ini sekarang juga!" Teriak dia dengan tegas, dingin dan arogan. 

'Ck! Sombong sekali dia. Dasar Bastard arogan.' batin Naina. 

"Maaf Tuan... bukan maksud saya seperti itu, melainkan saya mau bertanggung jawab telah TIDAK SENGAJA menumpahkan minuman Anda," Naina sengaja menekankan kata (Tidak sengaja) lebih keras agar pria arogan itu faham maksudnya. 

"Kau harus ikut denganku, sebagai tanggung jawab telah merusak mood ku untuk minum kembali." Setelah berujar dengan dingin, ia menyeret Naina yang tercengang dengan maksud si pria arogan. 

"Heh! Apa-apaan ini, tidak-- saya tidak mau, memangnya kesalahan saya begitu fatal sehingga harus bertanggung jawab seperti itu," Naina berteriak kesal dan mencoba melepaskan cekalan tangan dia di pergelangannya. 

"Berisik!" jawabnya kesal, namun tersenyum kemenangan dengan banyaknya rencana licik. 

Naina mencoba meronta, namun sia-sia usahaanya karena ia lelah akhirnya ia menggigit tangan lelaki itu dengan kencang. 

'Bodo amat, mau berdarah sekalipun. Memang dia pikir dia siapa, berani sekali menyeretku!' geram Naina dalam hati. 

Setelah berhasil lepas, ia langsung menatap tajam lelaki arogan itu. Lelaki yang kini meringis kesakitan dan rahang mengeras menahan emosi yang siap meluap. 

"Apa-apaan kau! Berani sekali menyentuhku, memang kau pikir siapa. Hah! Dan, aku tidak sudi ikut denganmu. Camkan itu!!" Naina langsung melenggang pergi dan masuk ke mobil nya. 

"Damn it!" umpatnya kesal, baru pertama kali ia di tolak bahkan di bantah. Namun, ia tidak akan tinggal diam, 'tunggu pembalasan ku Nona' batin nya menatap nyalang mobil yang kini semakin jauh. 

Mikail yang baru tiba setelah menjemput Naura di bandara, kini menatap bingung pada dua orang yang seperti nya habis bertengkar. 

Dia mendekati lelaki itu, yang tak lain sahabatnya sendiri. 

"Ada apa, Revan?" tanya nya bingung melihat kemarahan tercetak jelas di wajah lelaki yang memakai kemeja biru. 

Lelaki yang bernama Revan Adimas Callen. Menoleh dan menatap kesal Mikail. 

"Kemana saja kau?" tanyanya kesal. 

"Tadi jemput kakak dari cewek itu, kau kenal Naina? Terus kok tadi keliatan seperti bertengkar," jawabnya dan bertanya balik. 

"Oh... namanya Naina," gumam lirih Revan. 

"Kau bilang apa?" tanya Mikail memastikan, sebab ia mendengar gumaman kecil namun tidak jelas, karena bising kendaraan. 

"Tidak, kau tahu. Dia berani sekali menggigit tanganku, bahkan dia yang salah karena menumpahkan minumanku, dan saat ku seret untuk memanfaatkan dia, biar menemaniku ke acara Natalie, malah dia memaki ku. Baru pertama kali, di bantah gadis kecil," papar Revan dengan muka kesal, mengingat ia di gigit wanita. 

Sedangkan Mikail malah tertawa terbahak-bahak, sampai mengeluarkan air mata. Revan menatap aneh pada pemilik nightclub yang mana adalah sahabatnya. 

"Mikail, are you waras kan? Tunggu--- bukan kah, tadi kau bilang habis jemput kakak dia, memangnya ada hubungan apa kalian?" tanya Revan penuh selidik. 

"Shit! Jangankan kau yang orang asing, aku yang sudah di anggap kakak nya saja belum pernah sekali pun memeluk atau mengenggam tangannya. Karena dia berbeda, dia gak ingin di sentuh. Aku dan kakaknya sahabat-an, bahkan aku naksir dengan kakaknya namun, mereka berdua terlalu sulit di gapai sehingga aku mencoba memberi waktu hingga dia sadar bahwa hanya aku lelaki yang mencintai dia sepenuh hati," jelas Mikail dengan senyum, menerawang wajah manis Naura. 

"Sejak kapan kau sok puitis dan lemah dalam hal cewek, setahu ku kita gak jauh berbeda dalam meluluhkan wanita hanya dengan sekali jentik." Revan hanya acuh, seakan gak percaya ada wanita yang tidak mudah ia taklukan. 

"Sudah ku bilang, mereka berdua berbeda. Whatever, kalau tidak percaya." Mikail melenggang pergi begitu saja. 

"Shit! Dia main pergi saja, belum selesai bertanya." Revan yang kesal di tinggalkan akhirnya ia memilih pergi. Nanti dia bisa cari tahu sendiri detail gadis itu. 

'kau sudah berani mempermalukan harga diri ku dengan penolakanmu, tunggu pembalasanku Naina.' batin Revan dengan senyum licik. 

               ............ 

Naina memilih pulang ke mansion bahkan ia belum menegak segelas pun, rasa kesal nya membuat ia malas minum. Saat ia memasuki pintu utama, ia terasa bingung kenapa terdengar suara gelak tawa yang tidak asing. 

Saat melihat siapa yang tertawa di depan televisi, Naina langsung berlari kegirangan. 

"Kakak..., kenapa gak kabarin kalau mau ke sini?" Naina langsung memeluk kakaknya tanpa perduli yang di peluk sesak nafas. 

"Hei! I--ini kakak, sesak nafas," ucap Naura kesal karena pelukannya begitu erat. 

Naina hanya cengengesan dan meminta maaf. Tapi bingung satu hal. 

"Ngomong-ngomong, kakak naik apa ke sini?" tanya Naina dan berjalan ke minuman pendingin. 

"Di jemput Mikail," jawabnya enteng. Naina yang sedang meminum langsung tersedak. 

"Uhukk ... uhukk, apa kau bilang di jemput Mikail? Dasar Bastard kenapa dia tidak bilang padaku, padahal tadi bertemu." Naina begitu kesal dengan lelaki tampan bernama Mikail itu. Bagaimana tidak, jelas-jelas tadi mengobrol sebelum masuk ke club tapi dia malah mengelak bahwa dia menyukai kakaknya. 

"Memang. Kakak gak mengizinkan dia bilang, karena kejutan. Dan-- kakak, bawa oleh-oleh dari Indo untukmu di meja makan." Naura tercengang melihat adiknya langsung berlari ke meja makan. 

'Masih kebiasaan lama'. Batin Naura. 

Namun ia tersenyum, lantaran ia memang merindukan kecerian adiknya. 

Naina yang sedang asyik menikmati nasi dan rendang, langsung menoleh ke layar ponsel yang berdering menandakan panggilan masuk. Namun ia tidak perduli, ia tetap menikmati makanan yang sudah lama ia rindukan.

Saat sudah selesai Naina kembali ke ruang keluarga namun ia sudah tidak melihat Naura, akhirnya ia memilih berjalan ke kamar nya. Rasa penat tergantikan dengan kenyang sehingga kini ia mengantuk. 

Setelah mengganti gaun dengan piyama tidur, Naina langsung masuk ke selimut bersiap menuju alam mimpi. Namun, sepertinya tidak sesuai berjalan lancar. Kini ponselnya berdering kembali, karena kesal ia langsung mengangkat dan marah-marah pada si penelpon walau ia tidak tahu itu siapa. 

"Hallo! Apa maumu sih. Damn it, aku bahkan mau tidur, dan kau siapa menelfon malam-malam?" tanya nya dengan ketus, tidak peduli segala kesopanan. 

"Sudah marah-marahnya? Sekarang, cepat keluar. Ku tunggu depan gerbang, jika kau tidak keluar maka akan aku adukan kau ke nightclub, ke kakak mu Naura." Revan tersenyum kemenangan di ujung sana. Ia sudah tahu dari Mikail bahwa Naina berani ke club saat tidak ada Naura. 

"Shit! Siapa kau, berani mengancamku. Whatever and I don't care!" Naina hendak mematikan panggilan, namun ucapan pria di ujung sana membuatnya kesal dan akhirnya bangun dengan mata ngantuk. 

"Jika kau tidak temui aku. Maka aku yang masuk ke dalam mansion mu." Revan langsung mematikan sambungan telfon, seraya tersenyum licik. Karena ia harus membawa gadis itu untuk menemani hadir di acara Natalie, jika tidak harga diri Revan akan terhina karena pasti si Bitch itu berfikir belum bisa move on darinya. 

Naina dengan mata sudah setengah ngantuk, berjalan membuka gerbang. Sebenarnya tadi penjaga yang bertugas bertanya, namun Naina memilih suruh diam saja. 

Ia menghampiri mobil yang terparkir di sisi jalan, depan mansion dan mengetuk kaca mobil. Dan keluarlah pria dengan tuxedo yang melekat di tubuh proposionalnya. 

Masih setia dengan tatapan datar dan aura dingin. Namun, Naina tidak perduli yang saat ini menjadi tujuannya cepat selesai dengan Bastard ini dan tidur nyenyak. 

"Cepat katakan apa maumu?! Aku lelah, ingin tidur," ucap Naina acuh. 

"Masuklah." Revan hanya membuka-kan pintu, meminta gadis itu masuk. 

"No! Cepat katakan, apa maumu. Aku malas lama-lama dengan orang asing. Ya sudah aku masuk saja, dari pada menunggu kelamaan." Naina langsung berbalik hendak masuk kembali. Namun, ia tidak percaya akan di gendong bagai mengangkut karung beras. Dan langsung di lempar ke kursi depan, samping kemudi. 

Revan langsung memutar dan duduk di kemudi. Ia tahu, jika gadis itu pasti menolak. 

"Heh!!! Apa yang kau lakukan. Cepat buka, aku ingin tidur." Naina sempat terpukau akan kemewahan mobil pria itu. Namun, rasa jengkel lebih menguasai dirinya hingga ia tidak ingin terlihat kagum akan mobilnya. 

"Diamlah,... aku hanya ingin meminta kau menemani ku ke acara mantan ku." Revan langsung menginjak pedal gas, dan meninggalkan tempat itu. 

Naina mencoba mencerna. Dan saat sadar ia, langsung menimpuk kepala pria itu dengan buku yang ada di mobil. 

"Kau gila ya?! Apa kau tidak lihat aku pakai piyama, dan apa katamu--- menemanimu ke acara, terus menurutmu aku ke acara menggunakan piyama? Bastard gila!" geram Naina kesal, dia gak habis pikir dengan lelaki itu. Bahkan, ia memakai sandal jepit. 

Revan hanya diam, seraya fokus ke depan. Tadi ketika Naina memukul kepalanya, ia sempat meringis kesakitan. Hanya saja, ia malas meladeni ke cerewetan Naina. 

"Hei!!! Jawab Bastard!" Naina masih meminta jawaban, namun ia harus menahan gejolak amarah yang begitu besar. 

Revan masih tetap pura-pura tidak perduli, dan menganggap itu hanya radio. 

Selang beberapa menit, terdengar sunyi. Revan yang merasa heran karena gadis itu sudah diam lantas menoleh, dan ternyata gadis itu terlelap di sisi jendela kaca mobil. 

Revan berhenti sejenak, untuk membetulkan kursi Naina, agar gadis itu tidur dengan nyaman dan menyelimutinya dengan selimut yang selalu ia bawa. 

Namun sedetik kemudian, dia mengumpat.

"Bodoh! Bagaimana aku bisa pergi, jika dia saja tidur. Apa aku batalkan saja, pergi ke acara itu? Toh tidak mungkin juga ia sampai tepat waktu." Revan bingung sendiri, dan akhirnya memilih ke mansion miliknya, yang berlawanan arah dari, arah ke seharusnya acara. 

Kini Revan sampai di mansion miliknya. Mansion milik Revan lebih besar dan mewah dari mansion milik Naina. Lantai mansion milik Naina hanya dua, sedangkan Revan memiliki empat lantai. 

Setelah membaringkan Naina di tempat tidur miliknya, kini Revan sendiri bingung harus tidur dimana, dia tidak mungkin satu ranjang dengan gadis itu. Karena takut tidak bisa menahan diri dan, sama saja ia lelaki berengsek. Akhirnya, ia memilih tidur di sofa kamar itu. Dan, mulai terlelap ke alam lain. 

......... 

Matahari mulai melambai. Terdengar kicau burung sekitar mansion mewah itu. Para maid sibuk dengan pekerjaan mereka. Revan yang lebih dulu terjaga, memilih ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dan merileks kan badannya yang terasa pegal efek sofa kurang luas. Setelah selesai, Revan berjalan dan menaiki tempat tidur dengan pelan, berbaring di sisi gadis itu yang masih terlelap pulas. Ia memperhatikan setiap detail wajah polos tanpa make up itu dengan kagum, karena gadis itu manis saat tidak marah-marah. 

Saat melihat mata itu yang akan terbuka, Revan memilih pura-pura tertidur. Ia ingin melihat reaksi gadis itu, karena jika ia melihat langsung pasti marah-marah tidak jelas. 

Naina mengerjap untuk kesekian, ia memastikan apakah ia sedang bermimpi. Begitu mata terbuka, ia tidak percaya melihat pemandangan indah. Dada bidang lelaki, dan wajah tampan bak dewa Yunani. 

Saat sedang terpukau akan ketampanan lelaki di hadapannya, Naina langsung tersadar saat lelaki itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan ia kesal bercampur malu, karena ketahuan memperhatikannya. 

"Hahahaha..., kenapa? Terpesona heh! Iya, ku akui bahwa aku tampan. Tapi, tidak harus menunjukkan ekspresi menggelikan begitu," ujar Revan disela tawa nya, karena tampang Naina yang begitu seperti orang bodoh. 

"Shit!!" umpatnya kesal, dan langsung memukuli lelaki itu dengan bantal. Bahkan lantaran begitu kesal, karena malu. Naina dengan kekuatan penuh menendang barang berharga milik lelaki itu dengan kencang. 

"Awhhh, sial!" Revan tak kuasa menahan sakit pada miliknya. 

Naina langsung berlari ke kamar mandi dan tertawa bahagia, bisa membalas rasa kesal nya. Namun, saat ia berada di kamar mandi. Baru tersadar ini bukan kamarnya. Karena, dia tidak mungkin keluar akhirnya mandi dan tidak perduli ini kamar siapa. 

Selang beberapa menit. Naina keluar dan tidak melihat siapa-siapa di kamar itu. Ia bernafas lega, setidaknya ia tidak harus menanggung malu. Naina berjalan keliling kamar yang begitu luas, dan maskulin. Ia memperhatikan setiap sudut, dan pajangan foto di dinding. Sebenarnya, lelaki itu memang begitu tampan bahkan foto yang dari kecil saja sudah tampan. Ia memperhatikan semua dengan penuh kagum, namun saat matanya menatap laptop dan jam dinding. Ia tersadar, bahwa ia ada kuliah jam 9 sementara ia belum menyelesaikan tugas dari dosen killer itu. Secepat kilat, Naina berjalan keluar, dan menuruni tangga. Ia begitu emosi lantaran, ia berada di lantai tiga sementara tangga begitu banyak yang harus ia lewati. Ia memutar mencari lift, karena tidak mungkin mansion semewah ini tidak punya lift. Saat menemukan, Naina menghembuskan nafas lega dan langsung memencet tombol lantai bawah. Saat keluar dari lift, ia berpapasan dengan lelaki yang sukses bikin malu. Namun, karena terburu-buru ia langsung menarik tangan lelaki itu dan menuju teras depan. Revan yang di tarik begitu tiba-tiba kaget, namun tersenyum karena yang memulai menggenggam tangannya bukan dia tapi Naina. 

"Aku tidak tahu namamu siapa, yang jelas sekarang antarkan aku pulang. Kau kan yang membawa ku jadi kau juga harus mengantarku. Cepatlah!!" ucapnya kesal, ia frustasi karena tugas nya begitu banyak. 

"Aku tidak mau," Revan sengaja memancing emosi gadis itu, ia begitu menyukai perdebatan dengannya. 

Naina yang memang sudah terlampau kesal, dengan jurus taekwondo yang begitu ia kuasai. Langsung memplintir lengan lelaki itu dengan satu tangan, dan kakinya ia belit untuk mengunci kaki lelaki itu. Satu tangan bebasnya, ia gunakan untuk mengambil kunci di kantong celana lelaki itu. Setelah dapat, ia berlari ke mobil dan menginjak pedal gas langsung, dengan kecepatan tinggi keluar mansion. 

Revan terpekik kaget, dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia bukan tidak bisa membalas, namun lantaran ia tadi syok ternganga tidak percaya. 'Ternyata benar kata Mikail, bahwa dia berbeda' batin Revan. 

Setelah tersadar, lantas ia bergegas menuju mansion gadis itu karena mobilnya di bawa. Takut lecet, itu kan mobil yang baru ia beli dan di pakai hanya sesekali. 

......... 

Naura yang sedang bergegas ingin keluar. Ia menatap bingung lantaran ada sebuah mobil mewah memasuki pelataran mansion. Belum hilang bingungnya, kini tambah bingung karena adiknya keluar dan bergegas lari begitu saja. 

"Nai, mobil siapa itu? Dan, Ngomong-ngomong darimana kamu?" tanya Naura beruntun. 

"Nanti saja kak, aku jelasinnya sekarang aku ngerjain tugas kuliah dulu." Naina langsung berlari masuk dan menaiki tangga menuju kamarnya. 

Naura hanya mengangkat bahu, lantas berjalan ke mobil. Ia hari ini sudah ada janji dengan Mikail untuk urusan bisnis. 

Setelah kepergian mobil Naura. Kini mobil yang dikendarai Revan tiba. Ia langsung masuk begitu saja, karena pintu terbuka lebar. Ia mencoba mencari kamar gadis itu, di lantai bawah tidak ada semua. Akhirnya Revan menaiki tangga menuju lantai dua. Dan benar saja, di lantai dua. Semua kamar bernama, dari ujung hingga ujung. Hanya ada empat kamar di lantai dua, dan satu ruangan bebas. 

Revan berjalan ke kamar bertuliskan [ Naina ] saat hendak, mengetuk pintu namun ia melihat pintu itu tidak tertutup rapat. Akhirnya Revan langsung masuk tanpa permisi. 

Naina yang sedang stress, tidak perduli siapa yang masuk kamarnya. Kini ia menelungkupkan kepalanya ke meja komputer. 

Revan yang melihat lantas berjalan mendekat. Ia duduk di ranjang lantaran tidak ada kursi lagi. 

"Kenapa?" tanya seraya memperhatikan kamar Naina. 

"Pusing..., aku tuh belum mempelajari materi tugas ini. Sementara ini banyak banget yang belum ku selesaikan, mana nanti kuliah pagi jam 9 harus di kumpulkan. Stressss!!!" teriaknya frustasi. 

Revan berjalan, dan melihat tugas yang di maksud Naina. Ia tersenyum setelah membaca naskah tugas nya. Dengan gerakan pelan, ia menggeser komputer itu dan mengerjakan dengan begitu mudah. Revan termasuk anak paling cerdas di masa kuliahnya. Itu sebabnya kini ia sukses membangun perusahaan sendiri tanpa campur tangan keluarganya. 

Setelah selesai, ia duduk kembali ke ranjang tidur Naina. "Lihatlah, kau tidak perlu pusing lagi," ucap Revan, seraya meminum jus yang tadi di meja komputer. 

Naina yang tidak mengerti maksudnya. Lantas ia bangun dan melihat tugasnya. Ia tercengang begitu semua tugas selasai. Naina menoleh ke arah Revan. Sedetik kemudian ia berlari ke pria itu dan langsung memeluk nya. Ia begitu bahagia dan bisa lega atas tugas dari dosen killer itu. 

Revan tak percaya. Ia sudah sering di peluk oleh jalang yang biasa ia sewa dan bayar, namun kini terasa berbeda saat Naina memeluknya. Ia ingin membalas namun Naina terlanjur melepasnya. 

"Aku benar-benar berterima kasih padamu, dan sekarang aku akan bersiap. Kau tunggulah di ruang makan, akan aku buatkan makanan sebagai tanda terima kasih." Naina langsung berlari ke kamar mandi dengan keriangan yang tidak terkira. 

Revan masih mengontrol detak jantungnya yang seperti berlari maraton. Ia tidak percaya, hanya pelukan sukses membuat seluruh tubuhnya kaku. 

Ia pun memilih bergegas ke ruang makan, ia membuatkan coffee untuk dirinya dan Naina. 

Naina yang sudah selesai bergegas ke dapur.
Ia melihat lelaki itu sedang menyesap coffee. 

"Mau makan apa? Oh my god!! Aku bahkan belum tahu namamu, siapa nama kau?" tanya Naina seraya menyiapkan makanan. 

Revan yang sedang meminum kopi akhirnya, menaruh di meja dan memperhatikan apa yang gadis itu lakukan. 

"Revan," jawabnya singkat. 

"Aku gak yakin, kau tidak tahu namaku. So pasti kau tahu jadi aku tidak perlu berkenalan lagi." Naina langsung melenggang siap memasak. 

Revan hanya menjawab deheman. Dan ia sibuk dengan ponselnya, karena ia akan menunda meeting pagi yang seharusnya ia sudah berada di kantor. 

Hanya membutuhkan 20 menit kini sudah terhidang nasi goreng dan pancake bertabur saus nanas. 

"Kau pilih mana, nasi atau pancake? Aku lebih suka nasi namun aku juga suka pancake," tawar Naina menatap Revan. 

"Ya sudah... dimakan, semuanya saja." Revan sejujurnya juga tergoda oleh dua makanan itu. Namun ia terlalu gengsi untuk mengatakannya.

"Lalu kau makan apa? Atau, begini saja. Kita bagi dua nasi dan kita bagi dua juga pancake, adil kan?" tanya Naina sumringah karena sudah tidak sabar ingin memakan. 

Revan mengangguk setuju, jadi ia bisa mencoba kedua makanan itu. Kini mereka menikmati dalam diam, hanya denting suara sendok. 

Setelah menghabiskan makanan. Naina baru terfikir sesuatu, "kau tidak pergi bekerja?" tanyanya di sela membereskan meja. 

"Ini lagi bekerja." 

Naina bingung sendiri mendengar jawaban Revan. Dan saat tahu maksudnya, ia tertawa lepas. Ternyata dia type suka gombal. 

"Bekerja mendapatkan gaji hatimu," jawab Revan kembali dengan tersenyum menggoda. 

           ............ 

Kini mereka dekat. Bahkan kemana-mana berdua. Hingga malam itu ; dimana Revan mengungkapkan cinta. Awalnya Naina belum berani jawab, sebab ia tidak percaya akan cinta. Namun, seiring waktu bergulir. Naina mulai jatuh cinta dan tidak ingin jauh terpisah. Mereka menjalani hubungan penuh cinta dan bahagia. Namun, tidak menutup kemungkinan tidak ada masalah hidup dalam cinta. Naina dan Revan sudah melangkah jauh, bahkan pembicaraan mereka tentang pernikahan. Namun, takdir berkata lain.

****

Hingga malam itu tiba, malam dimana hati Naina hancur. Malam yang membuat Naina benci lelaki. 

Naina yang sedang meminum dengan Revan, kini ditemani sunyi. Lantaran Revan sebenarnya sudah dijodohkan ayah nya, namun ia tidak berani berkata pada Naina. Sementara Naina gugup saat ingin bilang bahwa dia hamil. Namun ia harus berkata jujur sehingga mereka bisa membahas kedepannya dengan anak-anak. 

"Rev," panggil Naina lirih. 

"Iya beib, why?" tanya Revan lembut. 

"Emmm..., aku--- aku hamil," ucap Naina akhirnya. 

Revan yang mendengar tersedak. Dan menatap Naina tidak percaya. Ia bingung, di satu sisi. Naina mengandung anaknya. Namun disisi lain, ia harus menerima perjodohan itu jika tidak ingin kehilangan semua aset. 

"Gugurkan." Revan berlalu setelah mengucap kata itu. 

Sementara Naina langsung mencekal tangan Revan. Ia tidak habis pikir dengan jawaban Revan. 

"Apa-apaan kau! Rev..., ini anak kita. Buah cinta kita. Bukankah kita ingin menikah? Rev, aku ingin membesarkan denganmu." Naina berucap lirih dan menatap Revan penuh cinta dan harapan.

Revan membuka dompet, dan menuliskan nominal pada cek. Lantas ia menaruh di meja depan Naina. 

"Itu cek untukmu. Gugurkan bayi itu dan jangan pernah ganggu aku lagi. Kita selesai sampai di sini. Ingat! Jangan pernah meminta aku menikahimu." Revan langsung pergi dengan membawa salah satu jalang di club. 

Hati Naina bagai tersambar petir. Ia begitu tidak percaya dengan lelaki yang begitu dicintainya. Kini dengan kejam meninggalkannya bersama buah hati mereka. Bahkan dengan kejam ia meminta menggugurkan bayi tak berdosa. Dengan kesal Naina merobek cek itu dan melempar beserta gelas wine. 

Setelah hari itu. Naina hancur bagaikan orang tidak waras. Ia tidak mungkin bilang pada kedua orangtua nya. Namun, jika ia di Las Vegas terus. Itu membuatnya tersiksa akan kenangan itu. 

Akhirnya Naina memilih pulang ke Indonesia. Menyusul kakaknya. Ia tahu kedua orangtua nya di Paris. Sehingga ia bisa menyendiri di Indonesia. 

**** 

"Bastard!! Bajing*n sekali dia, tidak mau bertanggung jawab dan malah meminta kau membunuh bayi tak berdosa. Sudah lupakan dia, kita besarkan bersama, atau- kamu mau kakak kenalkan dengan rekan bisnis cafe kakak?" Naura tersenyum menggoda berharap adiknya mau menerima. 

"Tidak kak. Aku tidak akan percaya cinta dan lelaki lagi, dan aku akan buktikan bahwa aku juga bisa membesarkan anakku tanpa siapa pun. Aku akan merawatnya penuh cinta walau aku membenci ayahnya." Naina langsung melenggang pergi. 

Naura menatap adiknya penuh iba. 

'Semoga Tuhan selalu bersamamu sayang, kakak yakin kamu wanita hebat dan kuat", batin Naura. 

        The End 
          ****

{ Cinta tidak selalu indah. Namun cinta mampu menciptakan keindahan dan kepahitan hidup dalam ikatan cinta hingga terkadang orang bahagia namun ada pula gila karena cinta. So -- jadi, jika belum siap berpetualang dalam perjalanan cinta. Jangan dulu jatuh cinta, namun bangunlah pondasi kekuatan dimana nanti saat cinta di uji} 

- Naina Biankara Prayuga - 

Jakarta, 15 Februari 2018.

.............................................

Tentang penulis : Maula Nur Baety, Brebes Jawa Tengah. Klampok pasar bawang, banjaratma Gg. Batara 2. Rt.04 Rw.09 

Tidak ada komentar